Ruang rapat lantai dua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga dipenuhi mahasiswa pada Jumat pagi, 30 Januari. Sejak pukul 09.00 WIB, KPI Lecture Series menghadirkan ruang berbagi pengalaman antara alumni, dosen, dan mahasiswa. Di forum itulah, perjalanan panjang Siti Nur Laili Rahmawati dibentangkan, bukan sebagai kisah instan tentang studi luar negeri, melainkan cerita tentang kegigihan yang ditempa oleh kegagalan.
Siti Nur Laili Rahmawati merupakan alumni KPI angkatan 2017–2021. Lulus pada 2021 dengan penjurusan jurnalistik, Siti Nur Laili Rahmawati tidak langsung melanjutkan studi magister. Selama kurang lebih dua tahun, Siti Nur Laili Rahmawati memilih bekerja untuk mencari pengalaman lapangan. Pilihan tersebut diambil karena selama masa kuliah, pengalaman turun langsung ke lapangan jurnalistik masih terbatas. Aktivitas akademik lebih banyak diisi dengan mengikuti berbagai lomba esai.
Masa kerja tersebut menjadi fase penting sebelum melanjutkan pendidikan. Di tengah proses itu, keinginan melanjutkan studi ke luar negeri terus dijaga. Salah satu jalur yang ditempuh adalah beasiswa LPDP. Siti Nur Laili Rahmawati tercatat mendaftar LPDP sekitar empat kali dan setiap prosesnya melibatkan surat rekomendasi dari Ketua Program Studi KPI, Saptoni. Namun, hasil yang diharapkan belum juga datang.
Kegagalan hadir di tahapan yang berbeda, mulai dari seleksi tulisan, wawancara, hingga tes tulis. Alih-alih berhenti, setiap kegagalan justru dijadikan ruang evaluasi.
“Ya sudah, mencoba terus, kan ini gagal aku kurangnya apa sih? Oh ini essay nya kurang! Diperbaiki, karna memang melihat perjalanan kegagalan itu tadi,” ungkap Siti Nur Laili Rahmawati.
Upaya tersebut akhirnya mengantarkan Siti Nur Laili Rahmawati pada jalur lain. Setelah beberapa kali mencoba LPDP, kesempatan datang melalui beasiswa dari kementerian yang kini bernama Komdigi.
“Tapi nggak, akhirnya bukan LPDP rejeki saya, tapi dari kementerian sekarang namanya Komdigi waktu itu namanya masih kominfo,” ungkapnya.
Beasiswa Komdigi memiliki fokus pada bidang teknologi informasi dan komunikasi. Salah satu syaratnya adalah pengalaman kerja selama dua tahun, bisa juga pengalaman kerja paruh waktu selama masa kuliah. Selain itu, beasiswa ini juga mensyaratkan proposal riset sejak awal pada jenjang S2, sehingga arah riset harus selaras dengan tujuan pemberi beasiswa. Bahkan dipantau oleh lembaga tiap bulan.
Ketertarikan Siti Nur Laili Rahmawati terhadap isu lingkungan telah tumbuh sejak masa S1. Skripsi yang disusun membahas dakwah ekologi, yang kemudian berkembang menjadi minat pada isu keberlanjutan dan praktik ramah lingkungan. Dari ketertarikan tersebut, Siti Nur Laili Rahmawati mencari tahu negara-negara yang menaruh perhatian serius terhadap isu lingkungan. Eropa menjadi rujukan, dengan Belanda sebagai salah satu negara yang dikenal konsisten dalam praktik tersebut.
Pilihan melanjutkan studi ke University of Twente tidak datang secara instan. University of Twente dikenal sebagai kampus dengan kekuatan di bidang teknik dan teknologi kalau di Indonesia seperti ITB dan ITS. Bagi Siti Nur Laili Rahmawati, perkembangan teknologi tidak cukup dibahas dari sisi penciptaan, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dikomunikasikan dan diterima oleh masyarakat. Ilmu Communication Science dipandang mampu menjembatani teknologi dengan sisi kemanusiaan, terutama dalam isu-isu ramah lingkungan.
“Temen-temen kalau ada teknologi gitu, teknologi maju AI maju, nggak hanya teknologinya saja yang dibutuhin. Nggak hanya ilmu tentang gimana bikin mesinya, gimana ngoperasiin codingnya. Tapi butuh juga sisi manusianya, gimana sih promoting ini? Ada teknologi baru, terus gimana orang orang bisa menerima ini,” tutur Siti Nur Laili Rahmawati.
Pengalaman hidup dan belajar di Belanda menjadi pengalaman pertama tinggal di luar negeri bagi Siti Nur Laili Rahmawati. Culture shock muncul di awal, mulai dari kebiasaan bersepeda sebagai transportasi utama hingga sistem pemilahan sampah yang lebih rinci. Dalam lingkungan akademik, Siti Nur Laili Rahmawati juga menghadapi tantangan sebagai mahasiswa minoritas. Dalam satu kelas, mahasiswa asal Indonesia hanya berjumlah dua orang, sementara lainnya berasal dari Belanda, Jerman, dan negara-negara Eropa Timur.
Perbedaan sistem pendidikan juga terasa. Masa libur perkuliahan relatif singkat, termasuk masa ujian yang hanya berlangsung sekitar satu minggu. Mahasiswa dituntut untuk terus belajar. Namun di sisi lain, sistem pendidikan di Belanda dinilai terbuka terhadap isu kesehatan mental, dengan akses pendampingan ketika beban akademik dirasa berat.
Ketekunan Siti Nur Laili Rahmawati mendapat perhatian dari Ketua Program Studi KPI, Saptoni.
“Satu hal yang saya ingat dari Laili, tidak sekedar mengandalkan pinter atau cerdas, tapi juga ketekunan itu yang saya sangat catat dari Laili ini, ketika dia menginginkan sesuatu itu ngotot banget jadi ini harus,” ungkap Saptoni.
Diskusi tersebut juga meninggalkan kesan bagi mahasiswa. Widya, mahasiswa KPI semester empat, menilai forum KPI Lecture Series membuka perspektif baru.
“Ngebuka pikiran kita, oh ternyata kalau kuliah diluar negeri itu kaya gitu, memberikan edukasi buat kita semua juga dari segi proses masuk menerima beasiswa tantangan kultur shok itu cukup memberikan informasi,” tutur Widya.
KPI Lecture Series yang berlangsung hingga pukul 11.30 WIB itu tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman akademik, tetapi juga cermin perjalanan panjang yang diwarnai kegagalan dan ketekunan. Perjalanan Siti Nur Laili Rahmawati menunjukkan bahwa mimpi tidak selalu dicapai melalui satu jalan lurus, tetapi melalui proses belajar yang terus diupayakan.
Penulis Reganessa Diosalwa Wisanggeni
- Bermula dari KPI berlabuh di Belanda dengan mimpi yang diperjuangkan - 5 Februari 2026
- Serial Stranger Things: Tumbuh di Antara Dua Dunia - 2 Februari 2026