crossorigin="anonymous">

Kaktus yang Terabaikan

Kalijaga.co – Di sebuah sudut desa, terbangunlah rumah yang luar biasa megahnya. Rumah itu terlihat berwibawa, bersih, mewah, rapi bahkan mungkin orang orang setelah melihatnya akan selalu memuji dan menyanjung keadaan rumah itu. Namun, di balik kemegahannya itu menyembunyikan sebuah ekosistem sunyi  yang di bangun atas ketidaktahuan.

Di rumah ini terdapat sebuah pondasi rumah yang terkubur, elemen krusial yang ada ini tertanam jauh di dalam tanah memanggul beban beton, atap, dan segala perabotan di atasnya tanpa pernah mengeluh. Baginya, ketika bagian dari rumah itu tidak mengalami keluhan berarti rumah itu baik-baik saja, itulah makna cinta yang mungkin ia maknai.

Namun sebagai pondasi yang terletak di dalam tanah yang gelap, pondasi itu sering kali melewatkan percakapan emosional di meja makan. Mungkin karena ia terlalu sibuk mengemban beratnya beban yang ia pikul sendirian hingga ia lupa bahwa rumah itu tidak hanya membutuhkan pondasi untuk berdiri kokoh tapi juga membutuhkan kehangatan untuk ditinggali di tengah dinginnya perkembangan zaman. Bahkan rumah itu sering kali mengabaikan pohon kaktus yang tumbuh di atas pot rumahnya. Ia memberikan keamanan untuk kaktus, tapi ia lupa bahwa kaktus itu juga sesekali perlu untuk di siram.

Jendela di rumah itu besar, ia menutup tatkala hujan datang, dan ia membuka tatkala mentari pagi bersinar. Tapi terkadang, jendela itu hanya memikirkan dirinya sendiri, ia selalu membersihkan dirinya agar tampak bagus di mata rumah lain. Ia terkadang hanya fokus pada dirinya sendiri, tanpa memperhatikan tiap-tiap sudut rumah yang ada. Bahkan terkadang ia menutup tatkala kaktus mendekat. 

Pintu di rumah itu terbuat dari kayu jati yang diukir, dipahat dengan indahnya. Bahkan pintu itu selalu menjadi hal pertama yang dipuji oleh para tamu. Pintu itu menjadi harapan rumah lain, setiap kali ada keberhasilan pintu itulah yang terbuka lebar untuk merayakannya. 

Pintu itu selalu menjadi pusat gravitasi emosional di rumah itu. Mungkin saja pondasi itu merasa usahanya berharga apabila pintu itu dapat berdiri tegak dan jendela merasa bangga memamerkan pintu itu pada dunia. Namun, pintu itu terlalu berisik, tiap kali ia terbuka atau tertutup, suaranya selalu mendominasi seisi rumah, menenggelamkan suara suara kecil lainnya. Tanpa sengaja pintu itu menghalangi pohon kaktus untuk mendekati pondasi dan jendela rumahnya.

Di sudut teras rumah itu ada sebuah pot tanah liat yang sedikit retak tumbuhlah sebuah pohon kaktus. Ia tak seperti bunga mawar yang manja ataupun bunga melati yang mengharumkan ruangan. Sejak kecil ia sadar, bahwa ia berbeda dari tanaman lain. Merawatnya tak perlu bersusah payah untuk menyiramkan air.

 Mungkin karena anggapan itulah kaktus ini dibiarkan untuk tumbuh sendiri dalam kekeringan emosional. Ia belajar tidak meminta, ia juga belajar untuk menyimpan cadangan perasaannya sendiri di dalam batang tubuh yang berduri. Namun, semakin ia dibiarkan begitu saja, duri yang terdapat di batangnya semakin tajam dan membahayakan. 

Mungkin ini merupakan proses mekanisme pertahanan diri, sebuah suara yang mungkin mengatakan “jangan mendekat jika kau hanya ingin menyakiti” atau mungkin “lihatlah aku, aku ada disini, aku butuh perhatianmu untuk merawat duri duriku agar tidak menyakitimu”.

Kaktus itu merasa kesepian di tengah keramaian. Ia melihat bagaimana pondasi, jendela, serta pintu saling terhubung dalam sebuah struktur yang harmonis. Sementara ia? Ia hanya diletakkan di sana sebagai pelengkap dekorasi yang keberadaannya sering terlupakan, kecuali saat seseorang tak sengaja menyenggol durinya dan mengumpat karena terluka.

Pohon kaktus itu, menemukan sumber kehidupannya

Di ruang tengah yang bermandikan cahaya lampu kuning yang hangat, atmosfer terasa begitu kental dengan aroma kasih sayang. Pintu itu membawa hangatnya sinar mentari menjadi pusat dari segala orbit perhatian sejak ia mengalami kerusakan yang cukup menggentarkan mentalnya. Jendela itu bergerak lincah bak penari, matanya tak henti memandang pintu untuk sekadar memastikan tak ada secuil pun yang mengganggu kenyamanan pintu. Matanya yang biasa menatap jauh ke halaman dan rumah sekitar, kini sepenuhnya terkunci pada gerak gerik pintu yang seolah olah setiap helaan napasnya merupakan melodi yang harus tetap terjaga ritmenya.

Pondasi itu menanggalkan segala kebisuannya, ia duduk condong ke depan, sorot matanya yang dalam terus menelisik pada tiap detail pintu rumahnya. Memberikan pertanyaan pertanyaan tanpa suara lewat tatapan yang dilalui pintu saat ia mengalami kerusakan. Ruangan itu penuh dengan gema perhatian yang tak terucap namun nyata, sebuah pelukan yang kolektif mengunci pintu dalam perlindungan yang tebal. 

Sementara itu, di balik jeruji bayangan di sudut teras yang dingin, kaktus duduk terabaikan. Ia adalah potret kesunyian yang kontras, sebuah eksistensi yang bernapas namun tak di anggap ada. Tak ada jemari yang mampir ke pundaknya, tak ada tatapan yang mencari tahu apakah hatinya sedang baik baik saja. Ia hanya melihat panggung sandiwara kasih sayang dari kejauhan, terabaikan di rumahnya sendiri. 

Malam itu, terasa sangat panjang bagi kaktus. Saat pintu tertutup rapat, jendela digerendel, dan pondasi mendekap dinginnya tanah, kaktus itu menatap bintang bintang. Ia sedang merindukan sesuatu yang dulu ia miliki, sebuah sentuhan yang tak ragu.

Di tengah gersangnya perasaan itu, kaktus mulai mencari hutan lain di luar rumahnya. Ia mencari Seseorang yang melihat durinya bukan sebagai ancaman, seseorang yang sudi tangannya terluka demi menggenggam duri durinya, seseorang yang sadar dan memahami bahwa di balik kulitnya yang kasar dan durinya yang tajam, terdapat daging yang lunak dan penuh air mata. 

Perlahan, ia mulai bertemu dengan orang orang baru, beberapa orang mencoba untuk menyentuhnya tapi tak lama, ia segera menarik tangannya sambil mengutuk rasa sakitnya. Mereka hanya menginginkan bunga kaktus yang indah saja, tanpa menerima durinya. 

Hingga akhirnya, di sebuah senja yang temaram, ia bertemu dengan seseorang yang berbeda, tak lagi datang dengan pujian palsu, ia hanya datang dan duduk di lantai teras yang berdebu, tepat di samping pot kaktus yang retak itu orang itu tak langsung menyentuhnya, ia hanya diam memberikan kehadirannya.

“Kamu pasti haus ya?, tumbuh di sudut sesunyi ini?” tanya seseorang pelan.

Untuk kali pertamanya, kaktus merasa akarnya bergetar, bukan karena air yang disiramkan tapi karena perlakuan seseorang itu yang melihat durinya bukan sebagai senjata, melainkan sebagai bagian dari cara bertahan hidupnya.

Si kaktus mulai bercerita bukan dengan kata kata, namun cara ia condong ke arah cahaya yang dibawa orang itu. Ia menceritakan beratnya perjalanan hidupnya. Orang itu tersenyum, lalu dengan perlahan ia menyentuh bagian batang kaktus dan membiarkan ujung jarinya sedikit terluka.

“Duri ini bagian dari dirimu, dan aku tak keberatan sedikit terluka untuk tahu betapa hebatnya kamu bertahan selama ini”.

Puncaknya, ketika kaktus itu mencoba membawa secercah cahaya yang ia bawa sendiri dari luar,  namun, begitu langkah mereka melewati ambang pintu, kehangatan di ruangan itu mendadak membeku bak kristal es yang tajam. Lampu yang tadinya terasa hangat berubah menjadi sorot interogasi yang menyakitkan. 

Jendela itu mematung, gorden matanya tertutup rapat oleh banyaknya prasangka. Pondasi itu menegakkan punggungnya, menciptakan suasana tegang yang sangat mencekam. Sementara pintu itu keluar dari singgasana pemulihannya, hanya memberikan sekilas tatapan ibanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *