crossorigin="anonymous">

Trend Lebaran : Ikuti Arus atau Jadi Diri Sendiri

Kalijaga.co – Kemajuan teknologi telah membawa perubahan yang signifikan ke dalam kehidupan manusia. Kecepatan arus tren yang menyebar lewat media sosial telah membawa tradisi baru, salah satunya adalah tren lebaran.

Tren lebaran dari tahun ke tahun selalu berubah-ubah, mengikuti tren yang viral. Mulai dari model baju, warna baju, hingga konten lebaran. 

Dahulu lebaran begitu sederhana. Saling mengunjungi, bermaaf-maafan, dan makan opor bersama. Sederhana, tapi momen kebersamaan dengan keluarga dan sanak saudara terasa nyata.

Semenjak ada tren-tren viral, semuanya berubah. Semua berlomba-lomba mengikuti tren. Jika trennya warna sage, tiba-tiba semua pakai baju lebaran warna sage. Secepat itu arus tren menyebar dan mempengaruhi banyak orang.

Hal-hal yang sebenarnya tidak penting, malah menjadi prioritas hanya karena “ingin terlihat”. Seakan-akan takut ketinggalan tren. Padahal kalau dipikir-pikir, tidak ada ruginya kalau mereka tidak mengikuti tren yang viral.

Fenomena ini melahirkan pertanyaan: apakah mengikuti tren lebaran itu hanya sekadar mengikuti arus atau menjadi diri sendiri?

Mengikuti tren sebenarnya tidak ada salahnya, sah-sah saja. Tren bisa menjadi sarana untuk mengekspresikan diri ataupun merayakan momen bersama orang tercinta.

Dengan adanya tren, bisa meningkatkan kreativitas untuk menghasilkan konten-konten yang berkualitas. Selain itu juga dapat menghasilkan uang dengan membuat konten yang tren di media sosial.

Namun, beberapa orang mengikuti tren bukan karena butuh tapi karena ingin terlihat. Mereka ingin diakui dan diterima, sampai-sampai kehilangan diri sendiri hanya untuk mencari validasi.

Maka dari itu, penting untuk bisa mengontrol diri agar tidak terbawa arus. Tanpa kontrol diri, mengikuti tren bisa membawa dampak negatif. Bisa kehilangan momen bersama dengan keluarga karena sibuk dengan media sosial. 

Padahal orangnya ada, tapi kehadirannya terasa tak nyata karena sibuk dengan gadgetnya sendiri-sendiri. Momen lebaran yang harusnya untuk mengukir kebersamaan, kini telah berubah menjadi sunyi.

Mereka sibuk agar terlihat sempurna di mata orang, namun harus kehilangan momen bersama orang-orang tercinta. Merasa haus akan pengakuan orang lain, padahal itu tak perlu. Seolah-olah pengakuan dari orang lain adalah kebutuhan penting, ada rasa ingin diterima.

Mereka terlalu fokus pada hasil, tapi tak peduli dengan prosesnya. Ingin foto dengan hasil yang sempurna, dengan menggunakan konsep yang bagus, fotografer handal, dan kamera mahal demi hasil yang sempurna. Bukan untuk mengabadikan momen, tapi hanya untuk dipandang sempurna oleh orang lain.

Menjadi diri sendiri di tengah arus tren yang deras memanglah tidak mudah. Orang yang tak tahu tren, seringkali di labeli “ketinggalan zaman” bahkan “norak”. 

Namun jika mengikuti tren tapi harus kehilangan diri sendiri bahkan hubungan dengan orang lain, apa gunanya? 

Teknologi akan terus berkembang, media sosial akan terus bergerak cepat, dan tren akan datang dan pergi, Apa yang viral hari ini, lusa bisa hilang tanpa jejak. 

Namun nilai-nilai lebaran akan selalu sama, untuk menyucikan hati. Mempererat tali persaudaraan dengan silaturahmi dan membersihkan dosa dengan saling memaafkan. Tentang kebersamaan yang tulus, tanpa dibuat-buat.

Momen merayakan Idul Fitri bersama orang-orang tersayang tidak datang setiap hari. Jangan sampai hanya demi tren jadi kehilangan momen itu. 

Menjadi diri sendiri di tengah arus perubahan yang cepat bukanlah sebuah kekalahan, tapi keberanian. Tak perlu lagi mencari pengakuan dari manapun, dan fokus pada diri sendiri. Meski perasaan membandingkan dan merasa tertinggal pasti ada, tapi rasa tenang dan bahagia yang benar-benar nyata tanpa dibuat-buat adalah sesuatu yang mahal.

Jangan sampai kehilangan diri sendiri hanya karena takut tertinggal. Tak apa jika tak mengikuti tren, tak apa jika lebaran sederhana, tak apa jika tampak tak sempurna, toh manusia memang tidak ada yang sempurna. Yang penting bisa menjadi diri sendiri dan bisa mendapat kebersamaan yang tulus, yang hadirnya benar-benar nyata. 

Tak perlu lagi sibuk mencari validasi, tak perlu lelah lagi membandingkan, dan tak perlu lagi merasa harus menjadi orang lain, karena yang paling penting adalah kebahagiaan diri sendiri. 

Tak apa jika mengikuti tren, tapi pastikan tak mengorbankan diri sendiri, tak kehilangan momen bersama orang-orang tercinta. Karena tren tidak salah, manusia yang membuatnya seolah-olah jahat.

Tren bisa menjadi alat untuk mengukir kenangan bersama orang-orang tercinta, dan hal-hal baik lainnya. Tergantung bagaimana manusia menggunakannya. 

Maka dari itu, kontrol diri itu penting. Bagaimana menyaring tren-tren yang bermanfaat dan yang tidak. Bagaimana menggunakan media sosial dengan bijak. Semua kembali pada diri sendiri: Mengikuti arus atau menjadi diri sendiri?

Jangan sampai sibuk mengikuti, tapi lupa untuk menikmati. Karena pada akhirnya, tren akan datang dan pergi silih berganti. Sedangkan momen kebersamaan di hari lebaran bersama orang-orang tersayang mungkin tak akan datang dua kali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *