Kalijaga.co – Di tengah gemuruh budaya pop yang menawarkan instrumen-instrumen instan dan hiburan digital, sekelompok mahasiswa laki-laki di Yogyakarta memilih jalan yang jarang dilintasi yaitu menari.
Bukan sekadar menari, mereka membawakan Tari Gambyong yang dalam tradisinya diperuntukkan bagi perempuan lengkap dengan riasan tebal, sanggul melilit pelipis, hingga jarik yang membungkus tubuh.
Aksi yang sempat viral di media sosial pada akhir tahun 2023 ini bukanlah sekadar pertunjukan tahunan mahasiswa Departemen Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Lebih dari itu, ini adalah kritik sosial terhadap konstruksi maskulinitas yang selama ini membelenggu gerak laki-laki.
Fenomena ini menjadi cermin menarik bagi Yogyakarta, kota yang dikenal dengan kelembutan budayanya namun masih menyisakan tembok tua yang kokoh berdiri.
Tembok itu merupakan tembok yang memisahkan gagah untuk lelaki dan alus untuk perempuan. Ketika tembok itu diguncang oleh gerak pinggul para penari, munculah pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang apa arti menjadi laki-laki di tengah tekanan budaya patriarki.
Bukan Sekadar Sensasi, Tapi Satire Gender
Pada 8 Desember 2023, sekitar 18 mahasiswa laki-laki dari berbagai angkatan di UNY tampil memukau dengan Tari Gambyong. Mereka mengenakan kemben, sanggul yang membingkai rahang tegas mereka, serta riasan yang biasanya hanya dikenakan oleh penari putri.
Video penampilan mereka menyebar luas dan menuai beragam reaksi. Ada yang tertawa, ada yang mengecam, dan tak sedikit yang mengaitkannya dengan isu LGBT. Namun di balik kontroversi itu, ada pesan mendalam yang coba disuarakan.
Dilansir dari IDN Times Yogyakarta, Mochamad Samiaji yang merupakan salah satu penari yang turut viral, menjelaskan bahwa pementasan tersebut adalah bentuk kritik gender.
“Kami coba mengangkat isu sosial yang berkaitan dengan gender, yang biasanya emansipasi tidak jarang ditemukan hanya sebagai kedok dan pembenaran untuk pembelaan diri,” ujar Samiaji kepada IDN Times.
Bagi mereka, bahasa tubuh adalah bahasa utama untuk menyuarakan kegelisahan intelektual. “Kami bergerak di bidang tari, jadi bahasa kami adalah tubuh. Perjuangan kami menyuarakan isu juga melalui karya,” tegas Samiaji.
Pementasan yang disaksikan sekitar 500 orang ini bahkan sudah mendapatkan izin dari ahli waris pencipta Tari Gambyong. Hal itu menunjukkan bahwa langkah mereka bukan tanpa pertimbangan akademis yang matang.
Gugatan dari Panggung Biennale
Kritik serupa muncul dalam skala yang lebih besar di Biennale Jogja 2023 melalui karya berjudul Setelah Bajidoran yang digagas oleh Ela Mutiara dan Maulidi Harista.
Berbeda dengan mahasiswa UNY yang membawakan tarian klasik keraton, karya ini mengangkat kesenian rakyat Bajidoran yang tumbuh di Jawa Barat. Sebuah pertunjukan yang identik dengan gerakan sensual penari perempuan di atas panggung yang kerap disawer penonton.
Dalam pertunjukan ini, lima orang penari laki-laki bertelanjang dada dengan celana jeans membawakan gerakan-gerakan sensual khas Bajidor. Mereka bergoyang, memacak pinggul, dan membawa uang kertas layaknya penari Bajidoran perempuan yang biasa digerumuti penonton.
Karya ini lahir dari pertanyaan mendasar yang diajukan oleh Ela Mutiara: apakah tatapan penuh hasrat (gaze) yang biasanya beroperasi pada tubuh perempuan akan tetap bekerja ketika yang menari adalah laki-laki?
Maulidi Harista dan rekan-rekannya ingin memutarbalikkan logika hasrat dalam pertunjukan. Mereka menyadari bahwa Bajidoran seperti banyak seni pertunjukan lainnya, sering menjadi ajang objektifikasi tubuh perempuan.
Dengan menempatkan laki-laki sebagai objek yang biasanya dipertontonkan, karya ini menggugat penonton untuk menyadari konstruksi sosial yang selama ini mereka alami secara tidak sadar .
Dalam situs resmi Bienle Jogja terdapat deskripsi dari pertunjukan, “Para lelaki itu menari di dalam galeri kurang lebih selama 30 menit. Selepas beberapa puluh menit berselang, mereka mengadakan pertunjukan yang sama. Namun, dengan tampilan yang berbeda. Di pertunjukan selanjutnya, mereka bertelanjang dada dan mengenakan celana jeans.”
Perubahan kostum ini menjadi penanda bahwa meskipun gerakannya sama, konstruksi sosial tentang apa yang sensual dan apa yang tidak, ternyata sangat ditentukan oleh siapa yang membawakan dan bagaimana ia ditampilkan.
Akar Historis Cross Gender dalam Tari
Meskipun menuai kontroversi di kalangan masyarakat awam, praktik laki-laki menarikan tarian perempuan sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah seni tradisi Indonesia.
Maestro tari lintas gender, Didik Nini Thowok, di panggung internasional menjelaskan bahwa di zaman kerajaan dulu, para wanita dilarang untuk menari di muka umum. Akibatnya, para pria lah yang disuguhkan untuk menari di khalayak ramai .
Lebih lanjut, dalam konteks ritual, perempuan juga tidak diperkenankan menari dalam keadaan menstruasi.
“Bahkan di Keraton Jogja pun sebelum zaman Hamengkubuwana ke V, semua yang menari laki-laki. Penari perempuan itu baru muncul di awal abad ke 20,” jelas Didik Nini Thowok.
Fakta historis ini menunjukkan bahwa apa yang dianggap tabu hari ini justru merupakan praktik yang lazim di masa lalu.
Didik Nini Thowok, melalui karya-karyanya seperti Bedhaya Hagoromo, telah membuktikan bahwa tari lintas gender bukanlah bentuk penyimpangan. Melainkan bentuk kreativitas artistik yang memiliki pakem dan nilai estetika tinggi.
Dalam karyanya tersebut, sembilan penari laki-laki menarikan tarian yang biasanya ditarikan oleh putri keraton, mengkolaborasikan budaya Jawa dan Jepang menjadi sebuah masterpiece yang diakui secara internasional .
Tantangan Stigma dan Ancaman Regenerasi
Meski memiliki akar historis yang kuat, para penari laki-laki di Yogyakarta menghadapi tantangan nyata. Secara teknis, rambut cepak yang menjadi gaya umum laki-laki menyulitkan pemasangan sanggul. Secara sosial, respon publik yang beragam dari tawa, anggapan sensasi, hingga tuduhan LGBT menjadi beban psikologis yang tidak ringan .
Bahkan di tingkat pendidikan dasar, stereotip bahwa menari adalah aktivitas untuk perempuan masih tertanam kuat. Seorang guru tari di Jogja pernah bercerita tentang murid SD yang bertanya polos, “Pak, kok cowok nari?”
Pertanyaan sederhana itu menggambarkan betapa regenerasi penari laki-laki terancam patah karena konstruksi gender yang sempit.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Suryadi Mulawarman, mengenang masa ketika penari laki-laki sulit ditemukan karena stigma negatif yang melekat.
“Dulu penari laki-laki sering disebut bencong atau banci. Banyak yang takut karena sering diolok-olok oleh teman. Ekosistem seperti itu membuat mereka enggan menjadi penari,” jelasnya dalam dialog di RRI.
Namun, Lalu Suryadi melihat telah terjadi pergeseran nilai. Dunia tari menjadi lebih terbuka dan dihargai, bahkan menjadi salah satu bentuk diplomasi budaya Indonesia.
“Saat ini, rata-rata undangan ke luar negeri adalah untuk pertunjukan tari,” ucapnya.
Meski begitu, ia menyoroti rendahnya minat anak muda terhadap seni tari, yang disebabkan oleh kurangnya penyesuaian karya dengan selera generasi sekarang.
Maskulinitas Sebagai Arena Pertarungan Wacana
Isu maskulinitas dalam seni tari bahkan telah menjadi kajian akademik serius. Asep Saepudin yang merupakan lulusan doktor dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 2024 dengan disertasi berjudul Konstruksi Mitos Maskulinitas dalam Arena Bajidoran.
Penelitian ini membuktikan bahwa panggung seni adalah medan pertarungan wacana gender yang kompleks.
Saepudin meneliti bagaimana maskulinitas dikonstruksi dalam komunitas pecinta Bajidoran, di mana praktik maskulin justru sangat kental. Penelitiannya mengungkap bahwa maskulinitas dalam konteks ini dibentuk oleh berbagai faktor seperti pola tatanan, kata-kata MC dan pesinden, gerakan pencug, kendang, selendang, modal ekonomi, hingga unsur musikal.
Temuan ini menunjukkan bahwa maskulinitas bukanlah sesuatu yang alami atau biologis, melainkan dikonstruksi secara sosial dan kultural melalui berbagai teks dan praktik.
Yogyakarta Sebagai Ekosistem yang Lebih Terbuka
Meskipun tantangan berat, Samiaji menegaskan bahwa Yogyakarta masih memiliki ekosistem seni yang lebih baik dibandingkan daerah lain karena keberadaan Keraton dan sanggar-sanggar tradisi yang kuat.
“Di kampus, kami selalu didorong untuk melestarikan tari klasik. Jika bukan kita generasi muda, siapa lagi?” pesannya.
Bagi anak muda laki-laki yang ingin menari tetapi takut dihakimi, Samiaji berpesan bahwa setiap orang berhak mengekspresikan emosi melalui tari. Tari bukan soal gender, tapi soal kejujuran dalam bergerak.
Pandangan ini sejalan dengan pengalaman Bathara Saverigadi, penari profesional peraih medali emas Dancesport PON 2024.
“Waktu kecil, teman-teman merasa aneh. Tapi saya percaya setiap anak, termasuk laki-laki, berhak menari. Apa pun bentuk tariannya, bisa jadi sarana anak mengenal tubuh dan rasa percaya dirinya,” ujarnya kepada Magdalene.co .
Bathara menyadari bahwa masyarakat baru bisa menerima ketika ada prestasi. “Prestasi bisa membuka mata. Tapi seharusnya, hak untuk menari tidak perlu pembuktian. Ini soal hak berekspresi, bukan soal siapa yang lebih pantas,” tegasnya .
Menjadi Manusia Seutuhnya
Para mahasiswa di Yogyakarta yang dengan berani menari Gambyong dan para seniman yang menggugat logika hasrat lewat Bajidoran adalah bukti bahwa maskulinitas tak harus selalu menggebu. Ia bisa lembut, luwes, dan gemulai. Mereka menari bukan untuk menjadi perempuan, tetapi untuk menjadi manusia seutuhnya, satu tarian pada satu waktu.
Di tengah tembok tua yang masih membatasi, mereka membuat retakan. Dari retakan itu, cahaya mulai masuk, menunjukkan bahwa menjadi laki-laki tidak berarti harus menolak keindahan, kelenturan, dan kelembutan.
Seperti kata penari Wacking Sansa, “Orang yang mengerti dunia tari enggak mempermasalahkan gerakannya, justru mengapresiasi. Mereka lihat usaha dan dedikasi, bukan gender.”
Di Yogyakarta yang adiluhung, para penari laki-laki ini mengajarkan satu hal yang sederhana namun mendalam. Seni tidak mengenal gender dan setiap tubuh memiliki hak yang sama untuk bergerak, mengekspresikan, dan menjadi dirinya sendiri.
Penulis: Khalqi Fahrezy Amin
- Merobohkan Tembok Maskulinitas: Mahasiswa Laki-Laki Yogyakarta Melampaui Gagah dan Alus - 24 Maret 2026
- Media Sosial dan Bentuk Solidaritas Perempuan Masa Kini - 23 Maret 2026
- Yogyakarta Lengang Pasca Idulfitri, Perantau Belum Kembali - 23 Maret 2026