Kalijaga.co – Dalam beberapa waktu terakhir, media sosial banyak memberitakan isu sosial, politik, hingga kemanusiaan yang sedang terjadi. Informasi juga menyebar lewat fitur story dan berbagai konten singkat di mesia sosial dengan cepat.
Ditengah banyaknya isu yang di beritakanoleh media, perempuan muda muncul sebagai salah satu kelompok aktif yang menyuarakan kepedulian serta pandangannya dalam ruang digital. Dari unggahan yang terlihat sederhana, namun dapat melahirkan bentuk baru dari solidaritas yang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran peran perempuan di era digital. Dahulu suara perempuan banyak terhambat karena adanya keterbatasan akses, ruang dan banyak faktor lainnya, sekarang media sosial justru membuka peluang yang lebih luas untuk perempuan.
Perempuan muda tidak lagi hanya menjadi konsumen informasi yang hanya menunggu orang lain memberikan pendapatnya. Tetapi juga dapat menjadi produsen yang turut serta dalam membentuk opini publik.
Mereka berperan dengan membagikan berita lewat fitur story, reels, serta unggahan singkat di tiktok yang dapat mengedukasi orang banyak dan mengajak orang lain untuk lebih peduli terhadap isu-isu yang sedang terjadi.
Respon terhadap isu-isu seperti banjir yang melanda Aceh, serangan di Palestina, konflik Timur Tengah, kebijakan pemerintahan yang dianggap merugikan Masyarakat, dan semacamnya menjadi salah satu bukti nyata bagaimana solidaritas digital terbentuk.
Banyak sekali perempuan muda yang memanfaatkan platform seperti Instagram, tiktok, twitter serta whatsapp untuk menyebarkan informasi terkait korban, menggalang donasi, hingga memberitakan kondisi lapangan.
Unggahan-unggahan tersebut bukan hanya sebagai informasi, karena dalam hitungan jam, sebuah story maupun unggahan dapat menjangkau banyak orang dalam waktu singkat. Sehingga hal tersebut dapat memperluas kesadaran publik.
Namun di balik kuatnya arus solidaritas tersebut, terdapat pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran kita. Apakah semua bentuk partisipasi ini benar-benar mencerminkan kepedulian yang mendalam? Atau hanya sebagai bentuk mengikuti trend yang sedang ramai diperbincangkan?
Karena tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial memiliki karakter yang cepat dan dinamis. Isu dapat dengan mudah berganti. Hari ini membicarakan terkait suatu topik, besok setelah bangun tidur topik itu sudah berganti dengan yang baru dan topik sebelumnya dilupakan.
Yang dapat menimbulkan kekhawatiran adalah apabila solidaritas ini hanya bersifat sementara dan tidak selalu berlanjut pada tindakan nyata.
Selain itu, banyak juga tantangan yang harus dihadapi oleh perempuan muda yang aktif bersuara di ruang digital. Seperti komentar negatif, kritik yang tidak konstruktif, kritik-kritik yang menyerang personal dan menyoroti aspek diluar substansi yang disampaikan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun ruang digital terbuka luas, belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman dan setara bagi perempuan.
Namun itu tidak menjadikan semangat dan solidaritas tersebut harus berhenti. Tidak sedikit perempuan muda yang tetap memilih untuk bersuara meskipun harus menghadapi risiko tersebut. Bagi mereka, diam bukanlah pilihan, apalagi ketika melihat adanya isu-isu penting yang membutuhkan perhatian publik.
Media sosial menjadi sarana untuk mengekspresikan kepedulian, serta menunjukkan bahwa generasi muda saat ini memiliki kesadaran yang kritis terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Unggahan sederhana memiliki makna yang berbeda. Bukan lagi sekedar aktivitas personal atau asal repost, melainkan telah menjadi bagian dari partisipasi sosial yang lebih luas meskipun bentuknya terlihat kecil.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa solidaritas di era digital memiliki bentuk yang berbeda dari sebelumnya. Ia tidak selalu diwujudkan dalam aksi fisik secara langsung seperti turun ke jalan atau berkumpul di depan gedung-gedung pemerintahan. Namun ditengah perkembangan teknologi, hal itu dapat dimulai dari penyebaran informasi dan peningkatan kesadaran masyarakat melalui story, hastag, dan unggahan di media sosial.
Penting pula untuk dingat bahwa solidaritas digital tidak berhenti pada layar kaca semata. Karena mau bagaimanapun kesadaran yang sudah dibangun dan disebarkan perlu diikuti dengan langkah nyata. Sekecil dan sesederhana apapun langkah tersebut tetap harus dilakukan agar dampaknya dapat dirasakan secara lebih konkret.
Semangat solidaritas dapat terus dijaga dan tidak hanya muncul ketika isu sedang ramai dibicarakan. Karena dengan begitu, solidaritas yang sudah dibangun tidak hanya kuat di platform digital, tetapi memberikan dampak yang nyata di kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan muda hari ini tidak lagi hanya menunggu ruang untuk didengar, tetapi justru dapat menciptakan ruang itu sendiri melalui media sosial. Dengan mengambil peran sekecil apapun untuk terlibat dalam isu-isu yang sedang terjadi di sekitar.
Kehadiran perempuan muda di ruang digital dapat dianggap sebagai bentuk partisipasi dalam menyampaikan suara dan menyebarkan kepedulian. Meski dianggap sederhana, langkah ini tetap memiliki arti yang penting dalam membangun kesadaran kolektif.
Hal itu pantas diapresiasi karena menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya sebagai tempat hiburan, namun juga ruang untuk berkonstribusi dalam isu-isu yang lebih luas.
Penulis: Layly Rahma | Editor: Nayla Nur Hidayah
- Merobohkan Tembok Maskulinitas: Mahasiswa Laki-Laki Yogyakarta Melampaui Gagah dan Alus - 24 Maret 2026
- Media Sosial dan Bentuk Solidaritas Perempuan Masa Kini - 23 Maret 2026
- Yogyakarta Lengang Pasca Idulfitri, Perantau Belum Kembali - 23 Maret 2026