crossorigin="anonymous">

Kartini dan Ketidaksetaraan yang Tak Usai

Kalijaga.co – Hampir setiap bulan April, nama RA Kartini kembali diagungkan. Di platform media sosial, di sekolah, hingga dikampus, kita selalu diingatkan pada sosok yang memperjuangkan dan menyuarakan dengan lantang tentang hak perempuan.

Namun apakah peringatan ini lebih dari sekedar seremonial tahunan? Apakah hanya sekedar berdandan mengenakan baju daerah? Dan apakah kita benar-benar memahami apa yang masih harus diperjuangkan?

Melihat dari perspektif mahasiswa tentu memahami bagaimana relevansi Kartini dimasa kini yang bukan hanya dengan nostalgia buta, tetapi juga dengan melihat kenyataan yang masih terjadi di sekitar kita.

Salah satu perjuangan utama Kartini adalah akses pendidikan bagi perempuan. Saat ini, mungkin kita merasa masalah itu sudah selesai. Perempuan bisa sekolah tinggi, kuliah di berbagai jurusan, bahkan meraih gelar doktor.

Salah satu mahasiswi dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yasmin Zahra menyatakan bahwa perjuangan Kartini di bidang pendidikan masih relevan hingga sekarang.

“Memperjuangkan pendidikan akan selalu relevan. Karena di Indonesia pendidikan masih belum menjadi aspek yang dapat dijangkau seluruh kalangan,” ujarnya.

Pernyataan ini membuka mata bahwa Kartini pada masa itu memperjuangkan agar perempuan bisa mengenyam pendidikan. Namun realitas yang terjadi kini adalah masalah yang bergeser, sebab pendidikan masih belum terjangkau bagi semua kalangan tanpa memandang gender.

Pendidikan yang dikomersialisasikan memberikan dampak untuk kelompok miskin yang seringkali terbatas dalam akses pendidikan bagi anak perempuan maupun laki-lakinya karena berbagai alasan ekonomi dan budaya.

Ketidaksetaraan yang Berganti Wajah

Muhammad Izza, salah satu mahasiswa Universitas Mataram (UNRAM) mengatakan bahwa mahasiswi masih menghadapi ketidaksetaraan di kampus. Bentuk ketidaksetaraan tersebut beragam. Mulai dari kesempatan yang tidak sama dalam mendapatkan beasiswa, stereotip gender dalam bidang studi, hingga minimnya representasi perempuan dalam kepemimpinan di dunia kampus.

Yasmin pun memiliki pengalaman serupa. “Terkadang ada dosen yang hanya memerhatikan siswa laki-laki,” katanya.

Pengakuan ini mungkin terdengar sepele. Namun hal ini menunjukkan bahwa ketidaksetaraan tidak selalu datang dari bentuk diskriminasi yang terang-terangan. Ketidaksetaraan bisa datang dari bentuk kecil yang mungkin tidak pernah kita sadari, perhatian yang berbeda atau asumsi-asumsi halus yang disematkan pada mahasiswi.

Di sebuah Museum Pergerakan Wanita Indonesia Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta, ditemukan sebuah catatan sejarah yang menarik. Kongres Perempuan Indonesia pertama digelar pada tahun 1928. Kongres-kongres berikutnya terus berlangsung meski dihambat berbagai rintangan, termasuk masa pendudukan Jepang.

Yang paling menarik adalah catatan tentang demonstrasi wanita di masa lalu. Mereka memperjuangkan hak perkawinan seperti penolakan terhadap pernikahan di bawah umur, poligami, serta hak-hak perburuhan seperti kesetaraan upah antara buruh perempuan dan laki-laki. Yang menjadi pertanyaan adalah sudahkah semua itu selesai?

Peran Laki-laki dalam Kesetaraan

Satu hal yang menarik adalah pengakuan mahasiswa dan mahasiswi tentang peran laki-laki. Izza dengan tegas mengatakan bahwa mahasiswa laki-laki memiliki peran penting dalam memperjuangkan kesetaraan gender.

“Kami dapat mendukung dan mempromosikan kesetaraan kesempatan, serta menjadi sekutu bagi mahasiswi,” ujarnya.

Yasmin menyatakan hal serupa dengan lebih blak-blakan. “Misoginistik kan akarnya dari laki-laki. Kalau mereka gak mau mengubahnya, ya sampai kapan pun bakal gak setara juga,” katanya.

Pernyataan ini menyadarkan bahwa kesetaraan bukan hanya tanggung jawab perempuan. Ia adalah tanggung jawab bersama. Jika laki-laki tidak sadar bahwa mereka memiliki peran dalam mengubah struktur yang tidak seimbang, maka kesetaraan hanya akan menjadi wacana saja.

Kartini Masa Kini

Lalu, bagaimana bentuk Kartini masa kini? Izza menggambarkannya sebagai wanita yang berani, cerdas, dan berprestasi. Ia menjadi inspirasi bagi mahasiswi untuk terus berjuang mencapai impian.

Yasmin tidak memberi definisi. Tapi jawabannya justru menunjukkan bahwa ia sedang berusaha menjadi Kartini versinya sendiri. “Kita sebisa mungkin berusaha membuat diri kita setara dengan cara membuktikan bahwa cewek juga bisa mencapai prestasi yang tidak kalah hebat dari cowo,” ucapnya.

Bagi saya, Kartini masa kini tidak harus menjadi aktivis yang lantang di jalanan. Ia bisa menjadi mahasiswi yang mengambil jurusan yang dulu dianggap “milik laki-laki”. Ia bisa menjadi perempuan yang berani berbicara dan memaparkan argumentasi di ruang publik. Ia bisa menjadi seorang yang sadar bahwa kesetaraan adalah perjuangan bersama.

Kartini mungkin tak pernah membayangkan dunia seperti sekarang. Tapi satu hal yang pasti adalah perjuangannya belum selesai. Perjuangan itu sekarang menjadi tugas bagi para mahasiswa perempuan maupun laki-laki sebagai penerus yang akan menentukan apakah kesetaraan benar-benar akan terwujud, atau sekadar menjadi narasi tahunan saat bulan April tiba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *