crossorigin="anonymous">

Suara Munir, Bukanlah Momentum Harian Melainkan Berkelanjutan

Kalijaga.co- “Munir, di setiap kata yang kau serukan, kami temukan keberanian melawan tirani yang kelam. Meski kau tak lagi di sini, namamu abadi di hati kami yang tak kan berhenti mencari keadilan yang dicuri.”

Kalimat di atas merupakan kalimat penutup dari sajak yang disampaikan Mizar, mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dalam rangkaian acara Serasi di Waroeng Kopi Genk, Jum’at (13/9/2024).

Ia menyuarakan hal tersebut sebagai bentuk dari tanggung jawab juga keresahannya sendiri mengenai negara. Hal ini juga sebagai bentuk lanjutan dari aksi peringatan darurat yang belum lama ini terjadi, dan menurutnya hal tersebut bukanlah momentum satu hari, tetapi berkelanjutan.

“Aku bertanggung jawab ketika aku mengikuti (aksi) peringatan darurat tersebut, aku bawa isu dan keresahan ku sendiri. Dalam artian (aksi) peringatan darurat itu bukan sebuah momentum satu hari, tapi berkelanjutan. Salah satunya ialah ketika aku bisa bersuara dengan bebas, yaa aku akan menyuarakan itu.” ucap Mizar dalam wawancara pada Jumat (13/9/2024).

Dengan menyuarakannya di Serasi, ia bertujuan untuk mengingatkan pendengar bahwa negara ini mempunyai kisah kelam, yaitu September Hitam. Kisah kelam dengan banyak kejadian pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di dalamnya.

“Kenapa aku menyuarakan disini, yaa karena aku ingin menyampaikan (kisah) Munir gitu di Serasi ini. Pertama jelas ini (bulan) September, kita mungkin semua mungkin September Hitam, dan salah satu ikonnya ialah dibunuhnya Munir. Terus acara (Serasi) ini diselenggarakan di bulan September yang menurut ku itu pas banget buat aku menyampaikan kisah Munir. Paling ngga, sedikit dari larik-larik dan sajak.” lanjutnya.

Kemudian, ia juga berharap dengan menyuarakan kisah Munir tersebut, semua orang yang mendengar, atau yang pernah membaca dan mengetahui kisah Munir ini agar bisa menyebarkan luaskannya kisah tersebut.

“Aku berharap bukan aku aja gitu yg bersuara untuk Munir ini. Mereka yang mendengarkan, mereka yang membaca, mereka yang tahu kasus Munir yaa aku sangat berharap untuk mereka membuka kisah itu ke orang lain gitu. Harapan ku kita semua mengingat kembali bahwa negara ini mempunyai catatan kelam. Harapan lebih besar nya, mahasiswa sekarang bisa tahu, ingat, dan beraksi bagaimana mereka menuntut pemerintah.”pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *