Kalijaga.co – Ahad (16/11) Desa Nglawisan, para petani padi kini menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Kenaikan biaya produksi, ketidakstabilan harga gabah, serta kondisi cuaca yang sering tidak menentu membuat hasil panen mereka tidak sebanding dengan pengeluaran. Situasi ini membuat banyak petani harus berjuang keras untuk mempertahankan penghasilan guna memenuhi kebutuhan.
Bu Karmina (58) salah satu petani padi, mengaku bahwa penghasilan tahun ini sangat buruk. Harga pupuk, dan pestisida terus naik, semantara harga gabah justru semakin rendah di sebabkan karena cuaca dan serangan Hama.
“Biaya untuk menanam sekarang besar sekali, mbak, untuk pengeluaran di sawah saja sampai satu juta lebih, saya merasa sangat rugi karena pemasukannya tidak sesuai dengan pengeluaran, penghasilan gabahnya yang saya dapatkan sangat sedikit,” ujarnya saat di wawancarai.
Karena hasil gabahnya yang sedikit, Bu Karmina memilih tidak menjual hasil panennya. Ia menggunakannya untuk kebutuhan makan keluarganya dan sebagiannya juga dibagi sedikit kepada kerabatnya.
“Kan gabahnya sedikit daripada dijual, lebih baik dimakan sendiri untuk menghemat pengeluaran juga,” ujarnya.
Bu Karmina juga berharap agar pemerintah bisa membantu kondisi petani supaya menjadi lebih baik.
”Saya kan janda bisa dikasih subsidi lah untuk pertanian. Misal dikasih pupuk gratis, dan bisa dikasih sosialisasi atau pengarahan aja untuk menangani kesulitan petani,” tambahnya.
Kondisi ini juga dirasakan oleh pedagang warung sebagai konsumen. Pak Suprapto (63), mengatakan pembelian beras yang ia lakukan ini berasal dari Daerah Perumbung.
”Beras ini diantar kemari saya tidak mengambil dari warga sekitar, sebenarnya saya tuh ingin harga beras juga tetap stabil, tapi akibat cuaca ini membuat harga beras di warung saya kadang naik kadang turun,” ujarnya saat di wawancarai.
Pak Suprapto juga mengatakan bahwa sebagai penjual beras tidak terlalu merasa rugi atas naik turunnya harga beras.
“Karena saya cuma mengikuti harga pasaran saja, saya juga tidak terlalu tergantung dengan penjualan beras karena beras di warung saya cuma tambahan aja,” tambahnya.
Situasi yang dialami para petani dan pedagang warung di Desa Nglawisan menunjukkan betapa menurunnya perekonomian ketika harga gabah tidak stabil dan biaya produksi terus meningkat, ditambah lagi cuaca dan hama yang merusak pertanian warga.
Para petani berjuang agar tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, sementara pedagang harus beradaptasi dengan naik turunnya harga beras. Harapan besar juga disampaikan warga agar pemerintah bisa memberi bantuan kepada petani, karena dengan adanya dukungan dan solusi yang jelas dari pemerintah masyarakat berharap ekonomi di desa dapat kembali normal dan membaik.
Reporter Hijra tul Adawiya