Kalijaga.co- Kenakalan remaja saat ini masih saja menjadi momok yang menakutkan bagi orang tua dan menimbulkan rasa cemas yang sangat fundamental. Makanya, para orang tua khususnya di pelosok desa selalu memercayakan anak-anaknya kepada pihak madrasah atau sekolah Islam yang dipandang cocok untuk menggembleng sikap mereka.
Merespon hal tersebut, salah satu alumni madrasah sekaligus mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Abdul Wakid Abdani melakukan pendekatan emosional sederhana melalui obrolan ringan dengan para remaja. Untuk bisa masuk ke lingkungan mereka tidak mudah dan memerlukan kesabaran serta ketekunan.
“Kita perlu memahami dulu apa yang mereka gemari. Setelah kita tahu kegemaran mereka kita baru bisa mengambil hati mereka. Seperti remaja di daerah saya, mereka itu suka yang namanya geng-gengan, sehingga untuk bisa diterima oleh mereka saya mesti jadi bagian dari mereka,” katanya saat diwawancarai via WhatsApp pada Jumat 13/9.
Wakid menjelaskan, proses pendekatan dengan para remaja berlangsung agak lama. Dia mengaku sangat kesulitan. Selain itu, masyarakat juga menyoroti sikapnya karena dirasa kurang etis lantaran ia suka geng-gengan padahal seorang mahasiswa. Dia juga sering mendengar omongan yang kurang mengenakkan tapi dia sadar bahwa orang tua hanya belum paham maksud dari perbuatannya yang seolah jadi bagian dari para remaja.
“Saya sering mendengar kalimat seperti ini: mahasiswa kok ga ada bedanya dengan yang bukan mahasiswa. Dia kan alumni pondok kok ilmunya ga dipake ya,” tutur Wakid.
Wakid juga menjelaskan bahwa setelah dia nimbrung image mereka sebagai anak geng yang nakal lambat laun mulai berkurang. Semenjak Wakid masuk ke lingkungan mereka dia memilih untuk mendirikan sebuah komunitas remaja yang dinamai SOAP Community yang mewajibkan anggota untuk mengikuti kegiatan seperti kajian dan salat berjamaah.
“Saya memilih inisiatif untuk mendirikan sebuah komunitas demi mengurangi kenakalan remaja. Komunitas ini menampung remaja yang belum bekerja seperti anak SMP dan SMA. Para anggota juga saya wajibkan untuk mengikuti kegiatan kajian yang dipimpin oleh saya sendiri dan untuk selalu meramaikan masjid seperti ikut salat berjamaah,” ungkapnya.
Selain mengurusi masalah itu, Wakid juga mengaku sering diminta untuk mengisi jam belajar di madrasah tempat dia sekolah dulu. Hal itu menjadi senjata bagi dia untuk menepis sangkaan masyarakat kepadanya, dengan harapan masyarakat bisa memahami maksud dan tujuannya yang seolah tidak mencerminkan sikap orang berpendidikan.
“Saya juga disuruh bantu-bantu di madrasah tempat saya sekolah dulu, dan hal itu tentunya menjadi senjata bagi saya selain untuk menepis prasangka negatif masyarakat. Hal itu juga saya jadikan alat untuk melancarkan semua niat saya yaitu memperbaiki moral para remaja. Saya rasa lewat pendidikan formal inilah jalan yang paling efektif untuk membentuk karakter para remaja, meski hal ini cuma bisa saya lakukan saat liburan,” tuturnya.
Wakid berharap dengan strategi semacam ini remaja di kampungnya bisa menjadi pemuda yang terdidik yang bisa dan mampu menjaga marwah desanya.
“Semoga dengan adanya komunitas ini, remaja-remaja ini bisa menjadi remaja yang berakhlak baik, bisa berguna bagi lingkungan sekitarnya khususnya lingkungan keluarga,” harap Wakid.
Setelah mewawancarai Wakid, kami juga mencoba menghubungi salah satu remaja yang termasuk salah satu anggota dari komunitas tersebut dan pihaknya mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan positif yang dimotori oleh Wakid tersebut.
“Saya sangat senang Kak, dengan adanya komunitas itu kehidupan saya seakan akan berbalik 190 derajat,” tutur Mohamad Zuhri.
Zuhri mengakui bahwa perilaku sebelumnya sangat bertentangan dengan moralitas masyarakat sekitarnya seperti sering ugal-ugalan saat mengendarai motor bahkan sering melawan saat ditegur.
“Hobi saya itu motoran kak, apalagi pakai motor yang knalpotnya nyaring, jadi saya suka geber-geber biar kelihatan keren,” imbuhnya.
Tapi Zuhri sudah mengakui bahwa perbuatannya itu termasuk cerminan yang tercela dan tidak sepatutnya dipertontonkan apalagi dicontoh oleh adik-adiknya
“Alhamdulillah setelah adanya komunitas itu, saya jadi paham bahwa selama ini saya melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan sangat mengganggu kenyamanan masyarakat sekitarnya. Saya harap adik-adik generasi selanjutnya tidak melakukan hal yang serupa, dan semoga komunitas ini tetap hidup sehingga bisa mengedukasi generasi selanjutnya,” pungkas Zuhri diakhir wawancara.
Reporter : Astutik | Editor : Hanan Yumna Nurul Laila Hidayat
- Merosotnya Minat Masyarakat Terhadap Kain Batik - 21 Juni 2025
- Jalan Macet Bikin Penjualan Seret dan Pejalan Kaki Mumet - 21 Juni 2025
- Antara Keamanan Siber dan Kepercayaan Rakyat - 15 Juni 2025