Kalijaga.co – Di Muntilan pada 16 November 2025 , ada sosok pengasuh dan juru masak di Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah yang masih terus memastikan anak-anak yang tinggal di panti mendapatkan menu makanan sehat setiap hari.
Kegiatan makanan sehat ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang anak-anak. Meskipun kegiatan di dapur dan penyusunan makanan dilakukan secara sederhana, pengasuh dan juru masak berusaha sebaik mungkin agar kebutuhan dasar anak-anak tetap terpenuhi.
Menurut pengasuh saat ini, Bapak Suherman S. Pd. I, panti selalu berupaya menjaga pola makan anak-anak agar tetap teratur. Panti sendiri tidak menerapkan aturan baku dalam menentukan menu setiap harinya, namun anak-anak tetap disediakan makan tiga kali sehari mulai dari sarapan, makan siang, hingga makan malam.
“Kalau standar menu makanan itu tidak ada mbak, cuma kalau standar lauk-pauk itu pasti ada,” ujarnya.
Menu harian anak-anak biasanya terdiri dari lauk pauk sederhana seperti telur, tempe, sayur, dll.
“Kalau makan itu seringnya sayur, cuman pasti dalam seminggu itu ada lauknya ayam, jadi divariasi gitu, nggak sama terus,” menurut Reza salah satu anak di panti yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMA.
Juru masak panti menambahkan bahwa kebutuhan nutrisi lain seperti susu tetap disediakan bagi anak-anak, meskipun tidak diberikan secara terjadwal.
“Kadang ada dari sumbangan donatur, tapi kalau ga ada ya saya nyari,” katanya Siti selaku juru masak panti.
Selain mengandalkan bahan yang dibeli, panti juga memanfaatkan kolam ikan yang ada di halaman. Menurut anak-anak yang tinggal di panti, mereka bisa memancing sendiri ikan yang ingin mereka masak. Seorang anak bahkan mengaku memang suka memancing, sehingga ketika ia memancing ikan yang nantinya akan dimasak, ia merasa senang. Ikan yang dipancing kemudian diolah menjadi lauk tambahan, sehingga secara tidak langsung turut mendukung kebutuhan gizi anak-anak.
Selain itu, di lingkungan panti terdapat pohon kelengkeng, pohon pisang, serta kebun jagung yang subur, dimana hasil panennya dapat dinikmati oleh seluruh warga panti.
Dukungan dari pemerintah untuk kebutuhan pangan anak-anak panti terbilang masih terbatas.
“Kontribusi pemerintah itu ndak ada, paling satu tahun keluar 5 sampai 8 juta itu belum tentu. Jadi ya kita jalan sendiri, nggak minta ke pemerintah,” ujar Bapak Suherman.
Kondisi ini membuat panti lebih banyak mengandalkan sumber daya sendiri, baik dari dapur internal, kolam ikan, maupun kebun yang dimiliki panti, untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan makanan sehat setiap hari.
Selain itu, pengasuh dan juru masak juga menyesuaikan menu dengan bahan yang tersedia, sehingga anak-anak tetap bisa menikmati makanan sehat meski tidak selalu sama setiap hari.
Penulis: Candra Rohadatul |Editor: Ahmad Nuryogi Ardiansyah
- Musik Tak Pernah Cukup Untuk Menjadi Alat Ukur Klasifikasi Sosial - 16 Januari 2026
- Antara Makeup Waterproof dan Kesempurnaan Wudu : Dilema Kecil Seorang Muslimah - 16 Januari 2026
- Bertahan Menjadi Pemahat di Tengah Zaman yang Berubah - 14 Januari 2026