Kalijaga.co – Warga Dusun Nglawisan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, berhasil menjadikan pengelolaan sampah sebagai sumber ekonomi dan dana sosial berkat program pemilahan organik dan anorganik yang berkelanjutan.
Program ini dibentuk untuk mengurangi banyaknya tumpukan sampah di TPS (Tempat Pembuangan Sementara).
“Tiap minggu itu biasanya warga udah memilah sampah yang masih bisa dijual kaya kardus, botol bekas, terus kaleng itu, buat dijual ke pengepul,” ujar Budi, Ketua RT 03 pada Ahad (16/11).
Ketua RT tersebut berharap program ini dapat terus berjalan dalam waktu panjang, guna terus menciptakan lingkungan yang bersih.
“Tujuan pemilahan ini ya buat warga sendiri, nah hasil dari penjualan sampah itu tidak semuanya masuk kas RT, kadang ya dipakai buat petugas yang ngambilin sampah itu, tapi sebagian juga masuk buat dana sosial. Jadi pas ada orang meninggal itu ya kain kafan, gladag, terus dana sosial itu ya dari kas tersebut,” tambahnya.
Program ini digagas karena adanya kekhawatiran warga yang melihat TPS (Tempat Pembuangan Sementara) setempat terus-menerus membludak sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Asap bakaran sampah yang dulunya menjadi budaya warga juga terus menimbulkan efek negatif untuk lingkungan sekitar.
“Tujuan pemilahan ini ya buat warga sendiri, nah hasil dari penjualan sampah itu tidak semuanya masuk kas RT, kadang ya dipakai buat petugas yang ngambilin sampah itu, tapi sebagian juga masuk buat dana sosial. Jadi pas ada orang meninggal itu ya kain kafan, gladag, terus dana sosial itu ya dari kas tersebut,” tambahnya.
Selain dimanfaatkan sebagai dana sosial, setiap keluarga di RT 03 ini juga mempunyai tabungan, yang mana tabungan tersebut bisa digunakan untuk rekreasi setiap setahun sekali.
“Program bulanan juga ada di sini, jadi tiap KK itu wajib bayar jumputan sebulan Rp. 25.000, nah itu bisa diangsur, nanti ada petugas ronda yang mengecek jumputan itu tiap malem. Setelah itu ada rapat bulanan untuk memeriksa siapa aja yang bayarnya masih kurang, kan itu keliatan karena kami punya data lengkapnya,” jelasnya Pak Budi dalam menanggapi persoalan penggalangan dana terkait program sampah bulanan.
Sementara itu, warga setempat juga sepakat untuk rutin melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar.
“Nggeh tiap jum’at niku wonten jum’at bersih, nah niku jum’at sore dari habis ashar sampe maghrib gitu,” ujar warga setempat, Bu Titik Indriyanti.
Kesadaran warga setempat tentu patut diapresiasi karena rasa semangatnya yang tinggi dan juga kerja sama untuk menjaga lingkungan bersama. Bahkan, kesadaran akan memilah sampah organik maupun anorganik saja sudah sangat baik, terlebih mau bekerja sama membersihkan lingkungan.
“Nggih niku tiap warga mesti kerja bakti sedoyo dari ujung ke ujung, makanya nggihi niki bersih dari sampah,” tambahnya
Dengan memilah sampah tersebut warga setempat juga merasa senang, karena merasa diuntungkan.
“Seneng, seneng banget wong akhir tahun niku saged liburan se-RT kok pripun mboten seneng, nggih sekeluarga nderek liburan sedanten,” imbuh Bu Titik pada Ahad (16/11).
Program pengelolaan sampah di RT 03, RW 13 ini kini menjadi salah satu sumber perputaran ekonomi warga. Selain menciptakan lingkungan yang bersih, sistem pemilahan sampah dan dana jumputan memberikan manfaat finansial yang dirasakan langsung oleh setiap keluarga. Pemerintah RT berencana terus mempertahankan program ini sebagai bentuk gerakan mandiri warga dalam menjaga kebersihan sekaligus meningkatkan kesejahteraan bersama.
“Sekarang bisa dilihat lingkungannya alhamdulillah resik,” pungkas Budi (16/11).
Penulis: ALINE ZUMI AL ZADA |Editor: Ahmad Nuryogi Ardiansyah
- Proses Panjang di Balik Sebuah Penampilan - 15 Maret 2026
- Romansa Sederhana di Kios Tambal Ban Pak Faiz dan Bu Sarjira - 14 Maret 2026
- Ragam Jajanan Buka Puasa di Jogja: Perpaduan Antara Kuliner Tradisional dan Populer - 13 Maret 2026