Kalijaga.co – Keputusan untuk menjadi santri dengan tetap menuntut ilmu umum, ibarat seperti memasuki dunia baru dan merasa kembali terlahir baru. Adaptasi lingkungan, menaati aturan, kewajiban dan bertahan dengan kesempatan tiga nyawa.
Noor Laila Fitriyana (25) atau yang akrab disapa Ela, merupakan mantan lurah Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri Kota Gede masa bhakti 2022-2024. Ia baru saja selesai dari kepengurusan. Kiprahnya menjadi santri hingga saat ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Bukan karena dari keluarga pesantren, melainkan keinginan orang tuanya agar anak-anaknya belajar agama islam sejak dini.
Ela yang sejak kecil akrab dengan kegiatan keagamaan pun berkeinginan untuk sekolah sambil mondok ketika memasuki jenjang menengah atas. Keputusan ini membuatnya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, di daerah yang cukup jauh dari tempat tinggalnya.
Salah satu hal baru yang ia temui adalah tentang bagaimana ia menjalankan peraturan di Pondok Pesantren. Setiap santri memiliki tiga nyawa agar tetap bertahan di pesantren. Nyawa disini berarti telah melakukan pelanggaran yang mengharuskannya untuk membuat surat pernyataan. Selain itu, juga dilengkapi dengan materai 6000. Jika telah melakukannya tiga kali berturut-turut, maka otomatis nyawanya sudah habis dan akan dikembalikan ke orang tua.
“Telat berangkat sekolah materai satu, nggak ngaji surat pernyataan (tanpa materai), kalau udah tiga kali pernyataan satu materai, nggak pakai kaos kaki materai satu,”ujar Ela kepada Kalijaga.co pada jum’at (1/4/2024).
Saat dikembalikan kepada orang tua akan diberikan perjanjian berupa pilihan masih mau melanjutkan atau tidak. Jika melanjutkan maka mendapatkan kesempatan satu nyawa lagi, namun jika kembali melakukan pelanggaran akan di keluarkan tanpa surat pindah.
Ela juga menceritakan ketika ada santri yang sakit tidak boleh pulang. Jika mengharuskan opname, maka santri tersebut akan di opname di RS pondok pesantren. Jadi pihak keluarga yang datang dan menemani santri tersebut. Jadwal jenguk atau sambangan santri juga hanya dibuka hari Jum’at.
Dari sisi keilmuan, Ela sempat merasa tidak percaya diri. Pasalnya secara keilmuan, ia merasa teman-temannya sudah jauh berada diatasnya, karena mereka sudah mondok sebelumnya. Sedangkan dirinya baru mengenal dan memahami. Meskipuan begitu, ia tetap mencoba untuk fokus belajar dengan membuat target pembelajaran untuk mengejar ketertinggalannya.
Masalah lain yang ia hadapi adalah dalam bersosialisasi dengan sesama santri. Ia merasa sulit untuk membangun relasi dengan santri lain. Apalagi yang ada dipikirannya belajar, belajar dan belajar. Ia jarang di kamar dan ngobrol dengan temanya. Ela lebih suka belajar mandiri diluar.
“Punya teman bisa dihitung satu, dua. Ke kamar hanya pas malam jum’at,”ujar Ela.
Dalam menjalani proses adaptasi dengan lingkungan baru membuatnya mengalami culture shock, hingga perdampak pada produktivitas menstruasinya. Ketika kelas 10 MA selama satu tahun ia tidak mengalami menstruasi.
Namun, berbagai kesulitan itu tak membuatnya goyah. Ia tetap ingin melanjutkan studinya di pondok pesantren. Tidak lain alasannya adalah karena ingin menuntut ilmu.
Kecintaannya dengan ilmu ini yang membuat Ela kini mengabiskan waktunya menjadi seorang guru di salah satu sekolah menengah dan masih menuntut ilmu di pondok. Ia merasa belum bisa mencapai standar untuk terjun ke masyarakat. Apalagi dilingkungan kota aksesnya mudah dan banyak. Hal ini juga sejalan dengan harapan orang tuanya dimanapun berada yang penting dirinya bisa berkembang
“Orang tua bilang juga nggak harus pulang, jadi terserah mau dimana yang penting berkembang” pungkas Ela.
Reporter : Nanik Rahmawati | Editor : Ilham Dwi Rahman
- Dari Catatan Keseharian Hingga Diadaptasi Menjadi Sebuah Film - 7 Desember 2024
- UIN Darurat Petugas Kebersihan - 30 Agustus 2024
- Kebijakan Penanganan Sampah DIY Tidak Netral Gender - 5 Juni 2024