crossorigin="anonymous">

Jembatan Waktu di Balik Gerbang Warna-Warni: Sehari Menjadi Anak Kecil Kembali

Kalijaga.co – Siang itu matahari tepat di atas kepala dan bersinar terik, seolah ikut mendukung niatku untuk menepi sejenak dari hiruk-pikuk kedewasaan. Langkah kaki membawaku  ke sebuah tempat yang belakangan ini ramai diperbincangkan yaitu Ibarbo Park. Awalnya, aku datang dengan pola pikir seorang dewasa yang sekadar ingin menuntaskan tugas dan melihat-lihat objek wisata baru. Namun, siapa sangka begitu kaki ini melewati gerbang utama, benteng kedewasaan yang kubangun bertahun-tahun runtuh seketika oleh gelombang nostalgia yang tak terbendung.

​Setibanya di sana, rasa senang langsung membuncah di dada. Aku disambut oleh kemeriahan yang tidak biasa. Di dalam ruangan tertutup, Ibarbo Idol Show sedang berlangsung. Sebuah pertunjukan yang menampilkan deretan badut boneka yang bernyanyi dan menari dengan gerakan yang menggemaskan. Di tengah kerumunan anak-anak kecil yang tertawa riuh, aku mendapati diriku kehilangan wibawa orang dewasa. Tanpa sadar, aku tak henti-hentinya berseru, “Ih, lucu!” berkali-kali. Kalimat itu terucap begitu saja, tanpa beban, tanpa rasa malu. Di detik itu, aku merasa ada sesuatu yang hangat bangkit di dalam diriku, jiwa anak-anak yang selama ini terhimpit oleh rutinitas, tiba-tiba bangun dan menyapa dunia kembali dengan binar mata yang sama seperti dulu.

​Namun, kejutan emosional yang sesungguhnya baru saja dimulai. Perjalananku berlanjut menuju area yang menjadi jantung dari wisata ini yaitu dunia kartun. Saat melangkah memasuki dunia kartun, aku merasa seolah-olah baru saja melewati sebuah portal waktu. Rasanya sangat ajaib. Pemandangan di hadapanku didominasi oleh warna-warna primer yang cerah, bentuk bangunan yang melengkung unik, dan suasana yang sangat ceria. Seketika, ingatanku ditarik paksa ke masa belasan tahun yang lalu. Warna-warni mencolok itu sangat familier, mereka mengingatkanku pada mainan-mainan kesayanganku waktu kecil. Aku merasa sedang berdiri di dalam sebuah diorama raksasa yang dulu hanya bisa kususun diatas karpet ruang tamu dengan tangan-tangan mungilku.

​Imajinasi yang dulu hanya hidup di layar televisi atau dilembaran buku gambar, kini berdiri tegak dan nyata di depanku. Aku tidak lagi hanya melihat gambar, aku bisa menyentuh dinding-dindingnya dan berjalan di antara bangunan-bangunan indah. Di salah satu sudut, aku melihat sebuah kereta kuda istana yang tak asing. Melihatnya membuatku terpaku sejenak. Kereta itu seolah melompat keluar dari imajinasi masa kecilku, saat aku sering berkhayal menjadi putri atau kesatria yang tinggal di dalam kastil. Dulu, kereta seperti itu hanya ada dalam lamunan saat aku menumpuk kursi-kursi di rumah sebagai bentuk imajinasiku. Kini, melihatnya secara fisik membuatku merasa bahwa mimpi-mimpi kecilku akhirnya mendapatkan panggung untuk mewujud.

​Tak jauh dari situ, pemandangan anak-anak yang asyik bermain mobil-mobilan semakin memperdalam rasa nostalgiaku. Aku teringat betapa dulu aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan sebuah mobil mainan kecil, melintasi jalur imajiner di lantai rumah. Melihat versi nyata dari dunia mainan di Ibarbo Park membuatku menyadari betapa indahnya masa itu. Di area ini, aku benar-benar bermain dengan lepas. Aku sengaja melupakan usia yang tak lagi muda dan segala beban tanggung jawab yang biasanya menggantung di pundak. Tidak ada lagi rasa canggung saat harus berbaur di antara anak-anak kecil. Di sana, aku bukan lagi pengunjung yang sedang mengerjakan tugas tapi aku adalah seorang anak yang sedang merayakan kebebasannya.

​Tak lupa, aku mengabadikan banyak momen di sana. Setiap jepretan kamera ponselku bukan sekadar untuk memenuhi galeri dan memberi makan sosial media, melainkan sebuah cara untuk merekam pembuktian bahwa imajinasiku dulu tidak sia-sia. Setiap sudut yang ku ambil mulai dari detail kereta kuda hingga keceriaan di area mobil-mobilan adalah kepingan puzzle masa kecil yang akhirnya lengkap. Aku ingin menyimpan bukti bahwa aku pernah kembali ke masa itu, meski hanya untuk beberapa jam.

​Menjelang sore, saat aku mulai merasa lelah namun hati terasa sangat penuh, aku terdiam sejenak di sebuah sudut dunia kartun. Aku memperhatikan keriuhan di sekelilingku. Ada sebuah refleksi mendalam yang muncul. Ternyata, menjadi dewasa bukan berarti kita harus membunuh jiwa anak-anak di dalam diri kita. Menjadi dewasa hanyalah tentang bagaimana kita menjaga agar jiwa kecil itu tetap memiliki tempat untuk “pulang” sesekali.

​Ibarbo Park, dengan segala kemegahan visualnya, telah menjadi jembatan waktu bagiku. Perjalanan hari ini memberiku sebuah kesadaran baru. Bahwa sesekali, kita butuh untuk melepaskan topeng kedewasaan, berseru “lucu” pada hal-hal sederhana, dan berlari mengejar warna-warni dunia tanpa takut dinilai orang lain. Aku pulang tidak hanya membawa draft tugas memoar, tetapi juga membawa perasaan tenang karena telah berhasil “menjemput” kembali diriku yang dulu.

​Begitu melangkah keluar dari gerbang dan kembali ke realita, aku tidak lagi merasa terbebani. Karena aku tahu, di dalam diriku, anak kecil yang menyukai kereta kuda dan mobil-mobilan itu kini sudah tersenyum puas. Ia telah melihat dunianya menjadi nyata, dan itu cukup untuk menguatkanku menjalani hari-hari sebagai orang dewasa yang lebih tangguh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *