crossorigin="anonymous">

Ihwal Perempuan Kotor dan Kegamangannya: Kisah Pendek Salsabila A.R.*

SALAH SIAPA TUAN?

Mahkotamu telah jatuh! Kau tak lagi berharga!”, ucap perempuan yang suci itu. “Redupkah cahayaku?” Tanyaku dalam batin. 

Dosa sama sama, sama sama dosa, namun kenapa derita seolah hanya dibebankan pada perempuan saja? Lantas kemana perginya lelaki yang tak turut terima konsekuensinya? Bahagia dengan perempuan baru? Sepertinya!

Merangkai cerita dari kisah lanjut hidupnya seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Sedangkan dibalik tawanya terdapat aku dari masa lalu yang tak henti menangis dan menyesal. Bukan, bukan soal kehilangan lelaki itu, namun aku kehilangan sesuatu dari tubuhku, sedangkan dia malah bahagia dengan perempuan baru. Meskipun lelaki itu tak sepenuhnya benar hilang dari hidupku.

.

Perempuan barunya tidak tahu-menahu, bahwa lelaki itu sebenarnya diam-diam masih mencari dan menghubungiku. Lelaki itu juga tak tega dengan keadaanku setelah kehilangannya. Kosong, hilang arah. Dibenci seolah tak ada lagi orang yang sudi mencintai.

Dasar perempuan jalang! Kamu ini kotor”, kata mereka.

“Semua karena salahmu sendiri”, ucap mereka.

Salahku? Benarkah karenaku saja? Lelaki itu bagaimana? Sedangkan dia telah andil dalam perkara. Dia tidak bersalah juga kah? Aku diam dan berpikir. Bahkan untuk menangispun sudah tidak bisa, mati rasa.

.

Malam semakin larut, aku telah terbaring dalam ruang kecilku, namun raga dan pikiranku enggan diajak kompromi. Mataku terbelalak menatap atap tanpa langit-langit dalam ruang ini. Doa? Iya doa! Bergegas ku sucikan diriku dengan air, membalut tubuh dengan pakaian tertutup, ku bentangkan selembar kain untuk bersujud. Mulai dari mohon ampun, ku buka percakapan negosiasiku dengan Tuhan. 

.

Bagaimana Tuhan? Tidak tahu dirikah hambamu yang berlumur dosa ini meminta untuk diselimuti kebaikan, lagi?”

“Bolehkah jika kenistaan hamba dimasa lalu dikubur dalam-dalam?”

“Buang lelaki itu Tuhan! Jauhkan! Jangan pulangkan!”

“Wahai Tuhan, Sang Pembolak Balik Hati ciptaan-Nya, dengan kerendahan hati, hamba mohon jungkir balikkan perasaan cinta ini menjadi rela yang paling rela”, doaku malam itu.

“Berbahagialah Tuan, aku sudah menduduk perkarakan dosa kita kepada Tuhan, semoga Tuhan memberikan ampunan seluas-luasnya. Pergilah, jangan melihatku lagi. Berbahagialah, ku relakan kamu dengan perempuan barumu”, ucap dalam hatiku.

.

Malam belum usai, ada pesan masuk, rupanya perempuan barunya itu. Dia mulai mengetahui bahwa ada masa lalu dari lelakinya yang belum usai, siapa lagi jika bukan aku.

Membentuk janji empat mata untuk saling bicara, perempuan itu berkata,

“saya perempuan, kitakan sama sama perempuan, saya punya naluri juga, tolong utarakan sejujurnya”.

Dua perempuan sedang bercengkerama perihal satu lelaki di tengah hiruk pikuk suasana kota. Ku ceritakan semua, tanpa aku curiga, tentang aku dan lelaki itu sudah sampai mana. Bertahun merajut asa, kenapa harus bertemu perempuan barunya? Meluluh lantakkan setiap kisah yang dibangun sejak lama. “Baik”, perempuan itu mengerti, dan lanjut bilang,

“sudah, akan saya kembalikan lelakimu itu”. Senang, namun ragu juga, benarkah?

.

Hari berganti, lelaki itu malah berhenti menghubungi, tak ada kalimat pamit sedikitpun, memutus akses kontak seketika masuklah sebuah pesan dari perempuan itu, katanya,

“maaf, saya yang akan melanjutkan perjalanan cinta lelaki itu, berhenti mencarinya, lupakan, dia telah berjanji padaku untuk tak lagi menghubungimu, semoga Tuhan berikan kebaikan untukmu”.

Tertunduk lesu aku membacanya, bagaimana dengan aku yang sudah berikan semua? Kurangkah?

Satu hari, dua hari, tiga hari, sampai dua tahun sudah aku hidup, namun tak memiliki kehidupan, bahkan tak jarang hingga satu minggu aku sanggup untuk tidak makan. Kehilangan gairah. Aku masih dalam tanyaku, juga doaku.

“Kemana perginya lelaki itu? Sebahagia itukah dengan perempuan barunya? Kenapa sampai hari ini dia belum juga pulang? Lantas aku bagaimana?”, ucapku sendiri, seolah tak terima takdir.

Aku lupa, mungkin itu bagian dari doa yang terkabulkan. Tapi bagaimana dengan perasaanku? Bukankah aku juga meminta pada Tuhan untuk menghilangkan gundah? Aku masih mencintai lelaki itu.

Sampai satu titik lelaki itu pulang, bahagia bukan kepalang, rinduku tersampaikan, selamat datang kembali Tuan! Kusambut dengan penuh kehangatan. Lelaki itu memberiku pelukan, seolah ada perasaan yang selama ini memang masih terpendam dalam, masih sayangkah? Lama tak bersua, aku dan lelaki itu banyak bernostalgia, memulai kembali semua kisah yang sempat redup dimakan jeda. Kini nyawaku mulai berbunga, setelah sekian lama redup tanpa cahaya. Baru saja bahagia, perempuan barunya datang,

“Apa-apaan ini? Dasar kamu perempuan tak tahu diri! Murahan! Memangnya kamu tidak tahu, lelaki ini sudah lama menjadi milikku?”, ucapannya yang sungguh menamparku.

Ku tanyakan pada lelaki itu, ku kira dia akan membelaku, nyatanya dia membuangku sekali lagi seolah aku memang tak berharga. Sial! Tidak tahu diri memang! Sudah ku beri sesuatu yang dia rindukan malah lagi-lagi dia tinggalkan.

.

Benci, aku benci keadaan ini! Jika memang lelaki itu ingin pergi, akan ku buat supaya dia tidak kembali, namun bagaimana caranya agar dia turut benci? Bagaimana jika aku melaporkan atas dugaan-dugaan berbau seksual? Nah iya, topik-topik itu selalu mendapat perhatian, jika dia malu, dia tak sudi lagi menemuiku, pasti! 

.

Ku rangkai skenario kotor untuk merusaknya, agar lelaki itu paham depresi. Ku cari jalan untuk mengembangkan laporan semi palsu ini, dapat! Sebulan, dua bulan, kasus terus berjalan, sangat menguras energi memang, tapi aku juga ingin melepaskan diri dari jeratan perasaan yang sengaja ditarik ulur lelaki itu, layaknya bermain layangan.

.

Tok, tok, tok … “Assalamualaikum”, seperti ada suara ketukan dan salam di depan pintu rumah.

“Wa’alaikumussalam”, jawabku sambil melangkah perlahan dan ku buka, terkejutku bukan kepalang, lelaki itu tiba-tiba datang tak diundang,

Mau apa kamu? Menyakitiku?”, gemetar, takut dia melakukan hal yang tak ku inginkan.

Salah! Dengan tulusnya ternyata dia mohon maaf, ntah atau mungkin aktingnya yang jago, ingin membuatku terlena dengan rayuannya.

Maaf, kali ini sudah tidak bisa, kamu terlambat, jalani saja hukumanmu” bicaraku padanya. Lelaki itu tak tinggal diam, dia pantang menyerah, bahkan menawariku soal perempuan barunya,

“Bagaimana jika perempuan baruku minta maaf saja padamu, maukah kamu berbincang lagi denganku?”. Jawabku tegas,

“Tidak Tuan! Cukup!”. Lelaki itu bergegas pulang dengan rasa kecewa.

Malam berganti, bagaimana bisa aku tiba-tiba merasa bersalah padanya, terlalu kejamkah aku menghukumnya? Tidak, aku tidak perlu kasihan pada lelaki yang pernah membuatku lebih hancur, pikirku. Namun lubuk hatiku mendobrak otak, memaksa untukku tetap memaafkan lelaki itu.

Sial! Otak serta hatiku bergelut, dan hatilah yang memenangkan pertandingan. Aku mencoba menghubungi lelaki itu, ku coba utarakan bahwa aku telah memaafkannya, aku mau untuk membantu mengembalikan taraf hidupnya yang sempat hancur dimakan berita. Ya, berita berbau seksual yang sempat aku lontarkan ke media merusak reputasinya, tak ada lagi yang percaya padanya.

Ku minta lelaki itu hapus semua tentang perempuan barunya, sebagai modal awal perjanjian, dia sepakat. Terbuang sudah perempuan baru itu, benarkah kalimat yang mengatakan bahwa perempuan masa lalu akan tetap menjadi pemenangnya? Ntahlah. Hubungan mereka usai, kembalilah hubunganku dengan lelaki itu. 

.

Belum, belum sampai akhir. Perempuan itu belum menyerah, dia masih mencari lelaki ini, tak henti juga mencoba menghubungi, namun tak ada balasan dari lelakiku ini. Lelakiku benar-benar mengakhiri. Perang dingin terjadi, antara perempuan baru dengan aku, alias perempuan yang sempat jadi masa lalu.

Tak ku gubris, suka suka perempuan itu, toh sejak awal aku sudah katakan pada perempuan baru itu, yakinkah dia ingin menyingkirkan aku? Sang perempuan dari masa lalu. Jawabnya dulu seyakin itu, baiklah, jika perempuan baru itu kalah, terimalah. Bukan malah menaruhku pada posisi salah. Jadi sebenarnya siapa yang bersalah? Tuankah? Ntah.

Penulis: Salsabila A.R. merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *