Kalijaga.co – Shalat tarawih di Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga menjadi culture shock bagi para jamaahnya, terutama dikalangan mahasiswa. Masjid kampus UIN Sunan Kalijaga mengadakan shalat teraeih berjamaah, tetapi dengan dua jamaah witir yang berbeda. Satu jamaah witir untuk sholat terawih 8 rakaat dan satu jamaah lainnya untuk 20 rakaat.
Bagi jamaah terawih 8 rakaat akan dialokasikan keselasar masjid untuk witir berjamaah dengan seorang imam. Sementara itu para jamaah yang lain melanjutkan tarawih hingga 20 rakaat dan witir.
Sistem tarawih seperti ini sudah diterapkan oleh masjid kampus UIN sejak lama, untuk mewadahi dan merangkul dua lapisan jamaah yang berbeda.
“Dari beberapa jama’ah ada yang minta, kok gak ada witir buat yang 11 itu, jadi kita ngikutin permintaan jama’ahnya juga”,ungkap Ahmad Ali selaku Sekretaris Pengurus Harian Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga.
Direktur Masjid UIN Sunan Kalijaga, Khanif Anwari menambahkan bahwa konsep pelaksanaan sholat tarawih ini merupakan bentuk apresiasi kecenderungan bertarawih 8 ataupun 20 rokaat di masjid UIN Sunan Kalijaga.
“Secara teknis gak ada kesulitan, kalau keluhan setiap tahun ada, dan akan kita evaluasi. Lagipula secara hukum syar’i gak ada masalah dan kami disini sekaligus menunjukan bahwa ini adalah laboratorium agama” kata Khanif.
Falah Naufal Luthfinanda, Ketua Lajnah Bahtsul Masa’il (LBM) Al Muayyad 2021-2022, juga mengatakan bahwa hal itu tidak mengapa asal tidak saling mengganggu antar jamaah.
“Hukum nya adalah makruh, tetapi kita dapat mengambil kaidah Ushul Fiqh dari iqomatul ibadah alal ‘aqibiha, ketika ibadah itu tergantung oleh apa yang dilakukan setelahnya atau apa efeknya, kemakruhan dari apa yang dikemukakan Imam Syafi’i itu bisa hilang ketika memang antara jama’ah satu dengan lainnya saling tentram atau nyaman dengan apa yang dilakukan didalam satu masjid bersama” Jelas Falah.
Kondusifitas pelaksanaan witir untuk terawih 8 rakaat tergantung pada masing-masing jamaah. Sebagian Jemaah terlihat bingung ketika dialokasikan oleh pihak masjid. Sebagian lain yang sudah memahami sistem terawih di masjid UIN lebih mudah untuk diarahkan.
“Kondusif sebenernya, apalagi itu sholat sunnah bukan wajib. Tapi kadang aku juga masih bingung”. Kata Fadil, salah satu Jemaah.
Namun, bagi beberapa jamaah yang lain, konsep pelaksanaan sholat tarawih ini masih asing dan rancu. Pasalnya, ada yang beranggapan bahwa tidak boleh melaksanakan 2 jamaah dalam 1 masjid. Beberapa jamaah lain mengatakan bahwa pelaksanaan sholat tidak menjadi kondusif karena ada jamaah yang melaksanakan sholat witir setelah 8 rakaat tarawih bersebelahan dengan jamaah yang sholat tarawih 20 rakaat
Sistem sholat tarawih dan witir di masjid kampus UIN Sunan Kalijaga sudah diterapkan sejak lama hingga menjadi keunikannya tersendiri. Sistem ini mengintegrasi dan mewadahi dua jamaah dalam satu atap masjid. Di Masjid kampus ini dapat dilihat besarnya toleransi antar umat Islam. Walaupun dari berbagai ormas, tetapi tetap bersatu dalam masjid dan tidak ada perbedaan antara satu sama lain yang bertujuan menghidupkan malam tarawih di bulan yang suci ini.
Reporter: Najwa Azzahra, Alifia Maharani dan Dimas Oktajaya | Editor: Maria Al-Zahra
- Merosotnya Minat Masyarakat Terhadap Kain Batik - 21 Juni 2025
- Jalan Macet Bikin Penjualan Seret dan Pejalan Kaki Mumet - 21 Juni 2025
- Antara Keamanan Siber dan Kepercayaan Rakyat - 15 Juni 2025